All posts filed under: Thoughts

Mungkin Kita Memang Kampungan dan Harus Jalan-Jalan ke Luar Negeri Untuk Belajar Beberes Meja Setelah Makan

Dua hari yang lalu saya membaca sebuah artikel soal turis Indonesia yang nggak membereskan meja setelah makan di restoran yang kemudian menjadi viral (artikel lainnya di sini). Saya nggak kaget kalau orang Indonesia melakukan hal ini. Saya malahan kaget waktu tau kalau katanya banyak sekali yang berkomentar kalau turis-turis Indonesia tersebut kampungan. Setau saya, kecuali di IKEA, orang Indonesia nggak pernah ‘dipaksa’ membereskan meja mereka setelah makan di restoran. Bukannya saya mau membenarkan kelakuan tersebut, namun faktanya orang Indonesia memang terbiasa dengan sumber daya manusia yang ‘berlimpah’ baik jumlahnya, waktunya dan tenaganya. Selalu ada tenaga kerja yang bisa dibayar dan salah satu tugasnya adalah untuk membereskan jejak makan para pelanggan baik di meja maupun di lantai. Saya pribadi biasanya bebersih ‘seadanya’ dengan tissue yang tersedia lalu menumpuk alat makan yang terpakai untuk menghemat beberapa detik waktu milik pramusaji yang akan membereskan meja kami. Yah, setidaknya walau nggak sampai beres (biasanya karena memang nggak selalu tersedia tempat sampah yang dedicated atau rak untuk mengembalikan baki dan peralatan makan) tapi nggak berantakkan banget lah. Beberapa kali saya mendapat komentar, “Biarin aja lah, Put.” Bahkan pernah saya diledek, “Sekalian …

Advertisements

Apakah Menjadi Ibu di Rumah Artinya Mundur Dalam Aktualisasi Diri?

Hari Sabtu lalu saya ketemuan dengan rekan seperjuangan waktu kerja sebagai wellsite geologist dulu. Berhubung jumlah wellsite geologist perempuan nggak banyak, mau nggak mau kami jadi dekat satu sama lain (eh, saya sih berasa dekat banget ya, mudah-mudahan kalian merasakan hal yang sama HAHA *sedih dong kalau nggak diakui*). Sudah 4 tahun berlalu sejak terakhir saya naik rig dan kalau dingat-ingat jadi kangen, hehe. Mungkin nggak semua orang suka kerja di rig tapi saya termasuk yang bisa menikmati. Saya introvert, suka kerja di malam hari, dan saya punya hobi yang bisa dilakukan di rig kalau bosan: baca buku, menulis, dan gambar-gambar. Saya juga menikmati banget hidup minimalis, nggak usah repot dandan sebelum kerja, baju juga cukup 2 stel, kantor jaraknya cuma beberapa langkah dari kamar dengan stok kopi dan cemilan unlimited, plus makanan selalu tersedia 4x sehari. Gaji awet, cuti pun banyak, hehehe. Tentu yang diingat-ingat  di atas adalah yang indah-indahnya. Lain waktu lagi ya cerita soal tekanan dan resiko kerja yang super tinggi :p Ya namanya juga lagi kangen, pasti yang diinget yang indah-indahnya dong. *kasih mic buat …

A Weekend Offline

Last Friday my mobile phone stopped working. After 2 years 3 months of working extremely hard (I practically used it for everything: communicating with everyone including my clients and customers, drawing and doodling, taking and editing pictures, jotting down writing ideas, browsing, etc) it just stopped. Maybe it just got tired and I just couldn’t accept it. I tried some tricks to extend its life a bit longer but none of them worked. Well, clearly I had to buy a new mobile phone. I hate to admit that when it comes to buying expensive things, I always turn indecisive. Actually it shouldn’t’ have been so difficult since the replacement must accommodate my need to draw and the option went down to only 2 types. On Saturday, I spent too long thinking and on Sunday morning we already had plan to go to Bandung for a little weekend escape with extended family. I still hadn’t got a new mobile phone but I decided to try letting it be. I should confess that I often mock myself for seeming unable …