All posts filed under: Thoughts

Memberi Itu Butuh Latihan

Saya merasa senang dan terharu waktu membaca salah satu review buku ‘Happiness is Homemade’ di Goodreads yang mengatakan: […] Oh ya satu hal pula yang sepertinya berkali ditekankan dalam buku ini adalah prinsip take and give, dan itu adalah hal yang kupercaya sebagai kunci sebuah keberlangsungan atas apapun. Senang karena reviewnya bagus. Terharu karena ada yang menangkap pesan tersirat mengenai ‘take and give‘ itu lalu menyuratkannya. Ya, saya percaya sekali bahwa kebahagiaan nggak hanya datang saat kita mendapat atau mengonsumsi sesuatu. Kebahagiaan juga muncul saat kita berbagi atau menghasilkan sesuatu. Kebahagiaan juga timbul dari memberi. Saat kita menerima, kita hanya menerima. Namun saat kita memberi, kita juga akan menerima. Saya banyak sekali belajar ini dari Ayah dan Bunda. Ayah saya sering bilang kepada saya, “Memberi itu butuh latihan. Semakin banyak latihan, semakin yakin kita bahwa jika kita memberi, kita akan mendapat lebih banyak. Semakin kita yakin, semakin banyak kita memberi. Begitu seterusnya. Nah, kalau nggak pernah latihan memberi, darimana keyakinan itu akan muncul?” “Who is it that would loan Allah a goodly loan so He …

Belajar Menghargai Makanan Berkat Media Sosial

Pekerjaan saya saat ini adalah pekerjaan yang menuntut saya untuk terus berkutat dengan media sosial. Walaupun kedengarannya mengerikan seolah-olah saya seperti pengguna narkoba yang butuh rehabilitasi, namun sebetulnya media sosial ini mengenalkan saya juga pada orang-orang / akun-akun yang membawa pengaruh positif. Salah satu contohnya: karena berkolaborasi untuk Living Loving, saya jadi kenal Atit yang sangat rapi, minimalis, dan sedang berusaha menjalani gaya hidup (hampir) zero waste living. Walaupun mungkin saya masih jauh banget dari zero waste living, namun sekarang saya mulai berpikir 2x untuk mengambil sedotan atau menyia-nyiakan kantong kresek. Saya juga ikutan membawa sapu tangan untuk mengurangi penggunaan tissue. Poin pentingnya bukan pada berapa tissue yang saya hemat, tapi mindset untuk mengurangi sampah yang pelan-pelan terbentuk di diri saya (walaupun mungkin ya pelan banget yaaa… hahahaha) Selain itu, berkat media sosial saya jadi lebih menghargai makanan dan orang-orang yang berjuang untuk menghasilkannya. Sejujurnya saya bukan penggemar makanan sehat dengan embel-embel organik, glutten free, non-GMO, fair trade, vegan, dll. Kenapa? Ya karena asumsi saya makin panjang embel-embelnya makin tinggi harganya, HAHAHA. Namun belakangan saya …