Latest Posts

Paris Trip 2017: Louvre Museum

Bonjour, Août!

Wow, nggak terasa sudah bulan Agustus dan ternyata masih banyak cerita dari #ParisTrip2017 yang mau saya ceritain di blog. Mudah-mudahan belum basi lah yaaa. Kali ini saya mau menulis tentang halan-halan ke Museum Louvre bersama Antariksa. Sebetulnya ‘Bersama Antariksa’ adalah pemanis judul aja sih karena tentu yang ambisius adalah bapak ibunya, hahah.

Saya dan suami memang punya hobi jalan-jalan ke museum dan galeri. Saya punya minat khusus pada topik budaya, geografi, dan seni. Suami saya juga sama, plus dia suka banget sejarah. Ya sebetulnya kami juga nggak selalu ngerti dan penikmat yang levelnya masih bercanda di depan patung peninggalan Yunani Kuno, “Bang, misalnya ini patung ditaro bareng sama patung-patung di tukang kembang kita mungkin ga ngenalin juga kali ya?” Yah, mudah-mudahan dengan sering diajak ke museum sejak bayi Antariksa kelak lebih intelek lah ya komentar-komentarnya, HAHAHA.

Berhubung di Paris banyak banget museum dan tempat bersejarahnya, kami dengan sok-sok-annya beli Paris Museum Pass yang 6 hari. Dengan Paris Museum Pass seharga 74 euro ini, kami bisa bebas masuk ke semua museum tanpa bayar dan antri beli tiket. Setelah hitung menghitung, sebetulnya dengan masuk 1 museum per hari saja sudah balik modal, apalagi teorinya kami nggak perlu antri beli tiket lagi jadi hemat waktu (Harap diingat itu teorinya, KALAU NGGAK BAWA BAYI, hahaha :p)

Sebelum tiba di tempat kami tentu sudah punya ekspektasi mengenai Louvre: besar, megah, touristy, dengan antrian yang panjang. Walaupun demikian tetap saja waktu sampai sana saya shock lihat antriannya, huahaha. Untungnya, selain sudah punya museum pass kami bawa Antariksa sehingga untuk masuk kami nggak perlu antri. Betul-betul langsung masuk! What a perk of bringing a baby!

Read More

Advertisements

Penerbangan Jarak Jauh Bersama Bayi (Part 2)

Menyambung post sebelumnya tentang penerbangan jarak jauh pertama Antariksa ke Paris, saya akan melanjutkan sedikit cerita tentang kisah kasih kami di pesawat. Kemudian saya akan sharing sedikit tips & trik serta daftar barang-barang yang penting dibawa untuk terbang jarak jauh bersama bayi (<1 tahun).

*

Oke, setelah segala drama yang sudah saya ceritakan di part 1, kami pun mendarat di Bandara Charles De Gaulle, Paris (CDG). Kondisi saya sudah lusuh banget dengan bekas muntah di mana-mana, rambut yang sudah offside dari kerudung, dan anak yang sudah skip entah berapa kali makan. Literally saya nggak tahu berapa kali skip makan karena ada beda waktu 7 jam yang bikin saya bingung, ini jamnya makan siang atau malam atau gimana sih? *merenung di pojokan*

Untuk melengkapi semuanya, Antariksa pup lagi waktu kami sedang siap-siap turun dari pesawat. Hahaha. Duh, Nak, kok bisa sih nggak makan tapi pupnya lancar benerrrrr? And then, guess what, ternyata NGGAK ADA nursing room (atau setidaknya space yang layak untuk membaringkan bayi) sebelum lewat imigrasi. Akhirnya kami pun mengantri untuk cek paspor dengan kondisi #seadanya. Rasanya pengen bilang, “Guys, rasain nih kebauan. Siapa suruh bandara internasional ke kota turis nggak punya baby room?!” Hzzzz~

Ini CDG. Futuristik yaa berasa lagi di film sci-fi tapi gimana atuh bayi belom ganti popok…

Read More

Penerbangan Jarak Jauh Bersama Bayi (Part 1)

Ada teman yang menagih salah satu janji saya sepulang dari Paris: menulis soal pengalaman terbang jarak jauh dengan bayi. Nah, berhubung Insyaallah kami mau sudah mau ngetrip lagi (ecieee…) jadi sebaiknya janji ini segera saya lunasi, hehe.

Kalau ditanya kenapa kami memilih pergi ke Paris waktu Antariksa masih berumur 8 bulan, jawabannya adalah: terpaksa, hahaha. Jadi sebetulnya saya dan Antariksa nebeng suami yang ada tugas negara ikut konferensi. Nah, mumpung suami dibayarin kantor tiket dan akomodasinya, pergilah kami sekeluarga. (Tenang, saya dan Antariksa bayar sendiri kok, nggak ikutan dibayarin negara :p)

(Baca juga: Bepergian Dengan Pesawat Bersama Bayi)

Kami pilih naik Qatar Airways karena jadwal terbangnya ‘enakeun’ (berangkat dari Jakarta tengah malam, djadwalkan sampai Paris siang) dan transitnya di Doha, jadi baik penerbangan Jakarta-Doha maupun Doha-Jakarta nggak terlalu lama, masing-masing sekitar 7 jam. Selain itu saya juga punya pengalaman baik terbang dengan maskapai ini sebelumnya (dan betul sih jadi Airline of The Year lagi tahun 2017).

Read More