Latest Posts

Apakah Menjadi Ibu di Rumah Artinya Mundur Dalam Aktualisasi Diri?

Hari Sabtu lalu saya ketemuan dengan rekan seperjuangan waktu kerja sebagai wellsite geologist dulu. Berhubung jumlah wellsite geologist perempuan nggak banyak, mau nggak mau kami jadi dekat satu sama lain (eh, saya sih berasa dekat banget ya, mudah-mudahan kalian merasakan hal yang sama HAHA *sedih dong kalau nggak diakui*).

Sudah 4 tahun berlalu sejak terakhir saya naik rig dan kalau dingat-ingat jadi kangen, hehe. Mungkin nggak semua orang suka kerja di rig tapi saya termasuk yang bisa menikmati. Saya introvert, suka kerja di malam hari, dan saya punya hobi yang bisa dilakukan di rig kalau bosan: baca buku, menulis, dan gambar-gambar. Saya juga menikmati banget hidup minimalis, nggak usah repot dandan sebelum kerja, baju juga cukup 2 stel, kantor jaraknya cuma beberapa langkah dari kamar dengan stok kopi dan cemilan unlimited, plus makanan selalu tersedia 4x sehari. Gaji awet, cuti pun banyak, hehehe.

Kantor waktu di rig.

Tentu yang diingat-ingat  di atas adalah yang indah-indahnya. Lain waktu lagi ya cerita soal tekanan dan resiko kerja yang super tinggi :p Ya namanya juga lagi kangen, pasti yang diinget yang indah-indahnya dong. *kasih mic buat curhat ke para jomblo yang lagi kangen sama mantannya*.

Ahem.

Read More

Advertisements

Me Time

Kemarin saya menyempatkan diri kabur untuk ‘Me Time’ sejenak.

Sebelum menjadi ibu dan kerja di rumah, ‘Me Time’ terbaik untuk saya adalah berdiam diri di rumah / kosan seharian, nonton film-film romantic comedy di laptop atau baca buku yang ringan-ringan ditemani oleh cemilan. Berhubung sekarang sehari-hari saya di rumah, saya coba melakukan hal lain yang dulu juga sering saya lakukan waktu masih single: jalan-jalan ke mall sendirian.

Saya nggak tau apakah teman-teman menganggap saya aneh atau malah ada yang sama seperti saya, hehehe. Jalan-jalan sendirian ke mall atau supermarket membeli satu dua barang (nggak harus mahal) atau jajanan ber-MSG adalah relaksasi dan kebahagiaan untuk saya. (Wait, kalau bahagia setelah jajan pasti saya nggak sendiri, buktinya mini market A & I sepertinya ada di tiap jengkal :p)

Read More

Antariksa, Yuk Kita Makan!

Alhamdulillah Antariksa sudah masuk bulan ke-6 yang artinya: mulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Seperti ibu-ibu lainnya, masa-masa mulai MPASI ini adalah masa-masa yang bikin saya deg-degan. Excited karena Antariksa bakal memulai petualangan baru dengan panca inderanya, namun khawatir kalau-kalau yang saya lakukan di awal masa MPASI ini salah dan malah bikin dia susah makan.

Rasa khawatir ini sebetulnya didasarkan dari pengalaman pribadi saya dan adik yang SUSAH BANGET makan. Perbedaan usia 7 tahun membuat saya ingat dengan jelas perjuangan ibu saya untuk ‘memaksa’ adik saya makan. Berharap nggak mengulang pengalaman tersebut, saya lebih fokus mencari tau bagaimana caranya supaya anak merasa nyaman berkenalan dengan MPASI. Salah satunya adalah menunggu sampai anak betul-betul siap memulai masa MPASI yang ditandai dengan kemampuan:

  • Menegakkan kepala
  • Duduk (di highchair ataupun dengan ditopang)
  • Mengkoordinasikan tangan untuk memasukkan makanan ke mulut

Berhubung Antariksa sudah menunjukkan kemampuan-kemampuan di atas dan sepertinya sudah ‘ngiler’ kalau lihat kami makan (plus sudah tumbuh 2 gigi!) maka di usia 6 bulan kurang 2 atau 3 hari Antariksa resmi saya perkenalkan MPASI.

Perlengkapan MPASI

Untuk persiapan perlengkapan MPASI, boleh dibilang saya santai banget karena sudah lengkap dikadoin, hihi. Dengan berjalannya waktu mungkin akan ditambah lagi yang ‘lucu-lucu’ seperti fresh food feeder atau pembuat popsicle rumahan. Kurang lebih begini perlengkapan MPASI perdana Antariksa:

Sementara untuk peralatan memasak saya menggunakan yang sudah ada di dapur :p #ibuibuhemat

Read More