Latest Posts

Selamat Ulang Tahun Pertama, Antariksa!

Minggu lalu Antariksa genap berusia satu tahun! Nggak ada yang pantas kami ucapkan selain Alhamdulillah wa syukurillah. Sebagai ibu, saya berharap dan mendoakan agar Antariksa sehat selalu, tumbuh bahagia, kelak bijaksana dan bermanfaat bagi sesama dan semesta.

Sebetulnya saya mau menulis soal ini segera setelah hari ulang tahunnya. Namun ternyata, despite all the wishes and prayers, Antariksa sakit dan harus diopname tiga malam di rumah sakit. Awalnya saya pikir batuk pilek biasa karena kecapekan mainin kado-kadonya, eh ternyata sampai sesak nafas. Dokter mendiagnosanya sebagai bronkiolitis. Alhamdulillah kemarin Antariksa boleh pulang dan saya pun bisa kembali ke meja kerja hari ini, hehehe.

Kembali ke soal ulang tahun Antariksa. Saya dan suami bukan tipe penggemar pesta. Kebetulan jatuh di hari Senin, kami memutuskan untuk merayakan seadanya saja malam-malam di rumah bersama kakek nenek om tante-nya Antariksa. Dekorasinya serba DIY alias Do It Yourself. Untuk teman-teman Antariksa di kompleks, saya sudah siapkan goodie bag. Kami pesan kue ulang tahun lalu berencana pesan sate padang saja untuk makanannya supaya nggak repot cuci piring, hahaha. :p

DIY Decoration

Read More

Advertisements

Hidup Berkecukupan

Pagi ini, ditemani segelas kopi dan playlist buatan sendiri, saya tergerak untuk menulis soal ini: hidup berkecukupan. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Widya Arif di blognya: ‘Gaya Hidup Vs Hidup Gaya’ yang bercerita soal dia yang merasa cukup-cukup saja walaupun menjadi freelancer yang tidak selalu fee lancar. Kalau Widya punya sudut pandang wanita single, saya akan tulis dari sudut pandang ibu-ibu dengan anak satu, hehe.

Sebelum saya resign dari pekerjaan kantoran terakhir saya, salah satu yang saya pertimbangkan adalah: rumah tangga kami akan kehilangan separuh pemasukan. (yup literally separuh, karena saya dan suami  saat itu bekerja di bidang yang sama dengan pemasukan yang kurang lebih sama, saat itu loh ya, hehe) Kalau boleh jujur, penghasilan tetap dan benefit-benefit karyawan yang saya tinggalkan jumlahnya relatif besar (untuk ukuran orang Indonesia) dan saya berkali-kali bertanya pada diri saya, “Siap nih nggak gajian lagi? Siap kehilangan 50% penghasilan rumah tangga padahal sebentar lagi punya anak?”

Siap nggak siap, I took the leap of faith.

Hari ini anak kami genap berusia setahun. Alhamdulillah, saya rasa kami hidup cukup, lebih dari cukup malah. Tiap bulan kami bisa melunasi segala tagihan, menabung, dan berbagi dengan yang tidak seberuntung kami. Mungkin ada yang bilang, “Ya iyalah, suami lo kan enak kerja di BUMN X, terus lo enak bisa kerja dari rumah, nyambi jadi ilustrator lah, nulis lah, jualan lah, ortu dan keluarga nggak perlu disupport” dst, dst. Ya, itu semua betul, dan saya bersyukur terus dan terus untuk itu semua.

Namun menurut saya semua itu kuncinya adalah bersyukur dan merasa cukup.

Read More