Latest Posts

puty puar - illustrator

Yang Nggak Semua Orang Tau Tentang Menjadi Ilustrator

Mungkin ada teman-teman yang membayangkan kalau menjadi ilustrator lepas adalah pekerjaan dambaan milennials jaman sekarang: sesuai hobi / minat / bakat / passion / ikigai / younameit, bisa dilakukan dari rumah, dan bisa jadi bos bagi diri sendiri. Namun sebenarnya nggak sesederhana itu, loh. Oleh karena itu, saya ingin mencoba berbagi cerita dan mungkin bisa jadi masukan untuk sesama pemula.

First of all, mungkin ada yang mikir: “Siapa elo mau ngasih masukan?”

Well, that’s the point! Justru karena saya masih tergolong baru di industri ini (sekitar 4 tahunan), probably some of you can relate with my case(s). Mungkin justru karena saya nggak sekolah / kuliah jurusan seni, then it’d be less intimidating. Selain itu, saya juga sudah merasakan kerja 5 tahun di dunia yang beda banget: jadi geologist yang kerja kantoran di perusahaan multinasional yang sangat terstruktur dan hirarkikal (tentu dengan posisi dan pemasukan yang sangat aman hahaha), pokoknya beda 180 derajat lah.

Intinya, saya berharap sudut pandang saya relatif lebih luas ketika bicara soal profesi.

Illustrator vs Artist

Sejak awal, saya hati-hati sekali saat menyebutkan titel ‘ilustrator’. Saya nggak berani menyebut diri saya ‘artist / seniman’ karena dalam interpretasi saya keduanya bersinggungan namun nggak selalu sejalan. Bagi saya ilustrator punya tugas untuk mengomunikasikan; membuat suatu cerita atau gagasan menjadi lebih jelas dan tersampaikan. Sementara ‘seniman’, menurut saya lebih prestisius karena benar-benar menciptakan sesuatu yang nggak harus dimengerti tapi dirasakan.

Tentu ada ilustrator yang juga seniman. Namun, berkaca pada kemampuan, pengalaman, dan project-project yang sudah dikerjakan rasanya saya lebih cocok disebut sebagai ilustrator. Gambar-gambar saya cenderung sederhana, mudah diartikan dan memang saya lebih suka menggambar kalau ada arahannya.

Read More

Karena Skin Care Adalah Investasi Jangka Panjang

Tahun ini adalah tahun terakhir saya boleh ngaku-ngaku twenty-something dan insyaallah kalau diberi umur, next year I’m welcoming the 3-O! Actually, I can not wait to age gracefully, karena harusnya seiring dengan bertambahnya usia, bertambah pula keluhuran dalam diri. Tsahhh~ Kerut kerut di wajah? Siapa takut~ *penuh kepercayaan diri*

Namun setelah beberapa kali ngobrol dengan wanita-wanita inspiratif di sekitar saya, saya yang super cuek dan newbie soal skin care + kosmetik ini mulai sadar kalau merawat kulit sejak dini adalah bagian dari ‘aging gracefully’. ‘Aging gracefully’ bukan soal nggak takut keriput tapi soal bagimana kita semakin mengenali diri sendiri, menerima dan mencintainya. Bagaimana kita semakin nyaman menjadi diri sendiri dan melakukan apa yang menjadi prioritas bagi kita tanpa sibuk memikirkan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Wajar kan kalau merawat tubuh dan wajah adalah salah satunya?

Saya semakin yakin soal ini setelah menghadiri undangan dari Pond’s Indonesia di Pond’s Age Miracle Ramadhan Gathering: #NeverStopGlowing, Kamis, 23 Mei lalu di Wyl’s Kitchen, Jakarta. Jujur waktu menerima undangan, saya sempat berpikir, “Hah? Pond’s Age Miracle? Memangnya gue sudah kelihatan butuh krim anti aging?” Namun berhubung saya adalah mamak-mamak yang visioner dan berpikiran jauh ke depan, saya memutuskan untuk ikut. Saya berpikir lagi, “Nggak apa-apa tau ilmu dan produknya dari sekarang, nanti siapa tau 5-6 tahun lagi mulai butuh…”

Pond's Age Miracle Ramadhan Gathering: #NeverStopGlowing

Ternyata pikiran saya selama ini salah! Apaaa??? *jeng jeng jeng*

Read More