All posts tagged: curhat

Terima Kasih

Tahun lalu saya pernah menulis soal menjadi ‘Jack of All Trades’. Di tulisan tersebut saya mengungkapkan soal banyaknya minat yang saya miliki namun nggak ada yang saya fokuskan. Sampai-sampai saya sendiri bingung mau menyebut diri saya apa. Sejak saat itu saya mulai memantapkan hati untuk lebih terarah kepada 3 hal: menulis, menggambar dan jualan. Kalau diterjemahkan sebagai profesi jadinya Freelance writer / blogger Illustrator Mompreneur #TETEPBANYAKYA #HAHAHAHA Namun kalau boleh jujur, saya sering banget loh merasa nggak percaya diri. Mungkin karena saya nggak punya latar belakang pendidikan formal di bidang-bidang tersebut. Mungkin karena saya sering membandingkan diri saya dengan orang lain. Di satu sisi saya percaya kalau saya secara teknis bisa menepati deadline, disiplin dan memberikan usaha yang maksimal 100%++. I believe in my attitude and my sense of responsibility tapi saya sering kepikiran: “Apalah gue ini, sekolah seni juga enggak,” atau “Apalah gue ini, cuma bisa gambar begini-begini aja dibanding A, B, C, X, Y, Z yang mungkin kalau lahirnya jaman dulu bisa sahabatan sama Van Gogh atau Monet atau bahkan sulam alis bareng …

Pintu-Pintu

“When one door closes, another opens.” – Alexander Graham Bell Sudah seminggan ini saya cukup sibuk dengan beberapa meeting, project, deadline, dan commission sampai-sampai nggak sempat menulis di blog, padahal ada beberapa hal yang sudah terpikirkan untuk di-post. Setiap kesempatan untuk menjadi produktif sungguh saya syukuri. Rasa syukur ini kemudian membawa saya untuk meluangkan sepotong pagi untuk menulis blog post singkat ini. Waktu resign dari kerjaan saya 1,5 tahun lalu, saya sempat berpikir bahwa menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan jika dilihat dari sisi karir dan sosial. Mungkin kalau dilihat dari sisi tersebut saja ada benarnya. Saya harus berhenti menjadi geologist dan membangun jaringan dalam lingkup profesi saya. Saya juga harus berhenti solo traveling dan menyimpan rapat-rapat dulu mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadi saya pikir waktu itu: ya harus ikhlas, namanya juga pengorbanan. I closed the door and I had to move on.