All posts tagged: family

Berubah Dengan Beberes Rumah

Setahun lalu saya membaca buku ‘The Life-Changing Magic of Tidying Up’ yang ditulis oleh Marie Kondo. Pembahasannya saya post di blog ini dan bisa dicek pada link berikut. Saya pikir setelah satu tahun dan merasakan perubahan pada diri saya, it’s worth telling here :) Kalau boleh jujur, sebetulnya interior monokrom dan minimalis nggak sesuai dengan jiwa saya (tsah!) Yah, saya senang sih lihatnya di majalah atau blog-blog desain interior, namun kalau untuk rumah sendiri saya hobi memajang souvenir dari kota-kota yang pernah kami kunjungi, foto-foto keluarga dan pajangan-pajangan yang menurut saya lucu (walaupun mungkin bagi sebagian orang absurd, heheheh). Pendek kata: saya suka beli-beli, memajang dan menimbun printil-printilan. Namun sejak rutin melakukan beberes dan decluttering setahun belakangan, saya mulai sadar kalau saya punya terlalu banyak barang yang nggak saya butuhkan dan inginkan: Sabun, body lotion dan sandal rumah dari hotel (padahal di rumah saya nggak pernah pakai sandal dalam ruangan), atau buku catatan dan gantungan kunci gratisan dari goodie bag sebuah acara. Selain itu banyak barang-barang yang masih saya simpan karena saya lupakan, seperti boneka sejak …

Advertisements

Hidup Berkecukupan

Pagi ini, ditemani segelas kopi dan playlist buatan sendiri, saya tergerak untuk menulis soal ini: hidup berkecukupan. Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Widya Arif di blognya: ‘Gaya Hidup Vs Hidup Gaya’ yang bercerita soal dia yang merasa cukup-cukup saja walaupun menjadi freelancer yang tidak selalu fee lancar. Kalau Widya punya sudut pandang wanita single, saya akan tulis dari sudut pandang ibu-ibu dengan anak satu, hehe. Sebelum saya resign dari pekerjaan kantoran terakhir saya, salah satu yang saya pertimbangkan adalah: rumah tangga kami akan kehilangan separuh pemasukan. (yup literally separuh, karena saya dan suami  saat itu bekerja di bidang yang sama dengan pemasukan yang kurang lebih sama, saat itu loh ya, hehe) Kalau boleh jujur, penghasilan tetap dan benefit-benefit karyawan yang saya tinggalkan jumlahnya relatif besar (untuk ukuran orang Indonesia) dan saya berkali-kali bertanya pada diri saya, “Siap nih nggak gajian lagi? Siap kehilangan 50% penghasilan rumah tangga padahal sebentar lagi punya anak?” Siap nggak siap, I took the leap of faith. Hari ini anak kami genap berusia setahun. Alhamdulillah, saya rasa kami hidup cukup, lebih …