All posts tagged: family

Bepergian dengan Pesawat Bersama Bayi

Nggak terasa sudah hari Senin lagi dan besok sudah hari terakhir di bulan pertama 2017. Seminggu belakangan saya lumayan produktif berkarya; mempersiapkan koleksi ketiga Fat Bunny byputy, rapi-rapi web Fat Bunny, dan mengerjakan beberapa commission. Saya juga menyelesaikan buku Momma Zen: Walking the Crooked Path of Motherhood dan lanjut membaca buku seputar parenting lainnya yaitu Bringing Up Bébé dan Bébé Day by Day. Insya Allah kalau sempat saya akan tulis hal-hal menarik yang saya dapat dari buku-buku yang saya baca ya :) Berhubung mood dan situasi sedang oke, saya ingin menunaikan rencana saya di post sebelumnya yaitu sharing pengalaman soal penerbangan pertama Antariksa ke Yogyakarta kemarin. Penerbangan Jakarta-Yogyakarta ini menurut saya rute yang ideal untuk ‘latihan’ karena ditempuh kurang lebih satu jam saja (yang ‘latihan’ di sini maksud saya adalah orang tuanya…. heheh). Saat itu Antariksa berumur 3.5 bulan, masih mengonsumsi ASI eksklusif  dan belum bisa duduk sendiri. Sebelum hari keberangkatan saya sempatkan browsing berbagai pengalaman, tips dan trik soal terbang bersama bayi. Saya pun baru tau kalau ternyata tiap maskapai menerapkan aturan yang berbeda soal usia minimum bayi untuk naik pesawat, dimulai dari 2 …

Silaturahmi

Kepergian Mama dan kedatangan Antariksa membawa banyak hikmah dan pelajaran bagi keluarga kami. Salah satu yang paling penting bagi saya adalah tentang pentingnya menjaga tali persaudaraan dan persahabatan, atau istilahnya silaturahmi. Dalam Islam bersilaturahmi memiliki keutamaan memperpanjang usia dan melapangkan rezeki, namun saya yakin memelihara hubungan baik terhadap teman apalagi saudara adalah hal yang baik secara universal. Silaturahmi adalah salah satu nilai yang diajarkan baik di keluarga saya maupun keluarga suami. Ayah kami keduanya berasal dari Minang yang sangat menghargai keluarga dan persaudaraan. Sejak kecil saya selalu diajak berkunjung ke rumah ‘saudara’. Sebagai seorang introvert, berkunjung ke rumah saudara and mingling was never easy for me, apalagi sebetulnya kalau dirunut-runut hubungan persaudaraannya lumayan jauh, misalnya ‘anak sepupunya kakek’. (Un)fortunately, Ayah dan Bunda saya selalu ‘memaksa’ saya ikut dan saya selalu nurut walaupun dengan agak cemberut. Ternyata ‘indah’-nya memiliki keluarga besar baru saya rasakan langsung ketika orang tua mulai mengadakan hajatan untuk saya, yaitu acara lamaran kemudian terus disambung dengan pernikahan, housewarming party, hingga acara pengajian 4 bulanan kehamilan. Suami saya (my-then-fiancé) pun ternyata merupakan bagian …

Mama

I hardly ever wrote about this here, that we had been battling with cancer. Mama, my mother in law, had lung cancer that had been spread to her bone and, discovered later, her brain. It was August last year and already on the late stadium when we found out. We decided to fight together, as family. Mama was a cancer survivor a decade ago, why couldn’t she be one again? She moved to our house and started series of scanning, consultation, chemotherapy, radiotherapy, medicines, days and nights of waiting and staying at the hospital, hours of being trapped in Bekasi-Jakarta traffic jams, everything which we already lost count of. They seemed never-ending and beyond exhausting, but Mama was one of the strongest persons I’ve ever known. She hardly whined and always had great sense of humor (spiced up with sarcasm that made us clicked). She prayed a lot, recited Al-Qur’an, and tried to live the fullest. People believed that we took care and supported her very well, but in a way, it was her that took care of us with love and things that just …