All posts tagged: Indonesia

Inspirasi dan Cerita dari Resonation 2017

Hari Sabtu lalu saya ikut sebuah women empowerment conference bertajuk Resonation 2017. Acara ini diselenggarakan oleh Resonance yang digagas oleh Nina Moran. Nina Moran ini lah yang (bersama dengan saudari-saudarinya) membuat majalah Gogirl!. Berhubung majalah Gogirl! ini hits banget waktu saya SMA, saya tentu termasuk salah satu follower Moran sisters. Resonation 2017 menghadirkan Sophia Amoruso, penulis buku #Girlboss yang menceritakan pengalaman pribadinya mendirikan sebuah bisnis pakaian bekas online Nasty Gal. #Girlboss sendiri sekarang menjadi sebuah brand baru yang dikembangkan oleh Sophia juga dibuatkan serialnya di Netflix. Selain Sophia Amoruso, sederetan wanita (dan pria) keren menjadi pembicara maupun fasilitator untuk sesi group discussion. Waktu membaca publikasi acara ini, saya langsung berminat ikutan dan beli pre-sale ticketnya walaupun jujur saja saya bahkan bukan fansnya #Girlboss (I gave 2 stars for the book). Saya langsung berminat ikutan karena ingin dapat inspirasi seputar entrepreneurship dan berharap bisa ketemu dengan para wanita hebat yang berpengalaman di bidang bisnis dan manajemen. Acara ini menjawab keinginan saya and it even exceeded my expectation. Inspirasi yang saya dapat bukan cuma soal entrepreneurship. Lebih dari itu. Mudah-mudahan …

Advertisements

Belajar Tentang Mendengarkan Suara Hati di Patas Tadi Pagi

Sejak punya anak dan mudahnya menemukan ojek / taksi online, saya mulai jarang naik transportasi umum seperti angkot dan bus. Saya ini sebetulnya ‘penggemar berat’ angkot dan bus kota dengan segala lebih dan kurangnya. Biasanya dari rumah saya akan naik ojek ke gerbang kompleks, naik angkot sekali ke halte terdekat yang dilewati bus berbagai jurusan (dari Senen sampai Kalideres) lalu naik bus. Mungkin ada yang mikir, “Yah, ribet banget… Kenapa nggak naik taksi online aja? Apalagi kalau ada promo.” Tanpa bermaksud sombong, saya harus bilang kalau saya nggak keberatan secara finansial untuk naik taksi baik konvensional maupun online. Apalagi sekarang saya terhitung jarang pergi-pergi. Namun kalau pergi sendirian (nggak bersama anak atau orang tua), saya berusaha untuk bepergian dengan angkot atau bus seperti biasa. Alasan kedua adalah: saya mencoba untuk nggak mengeluhkan kemacetan sementara saya merupakan bagian dari kemacetan itu sendiri. Alasan pertamanya: sedikit banyak saya selalu belajar tentang kehidupan di transportasi umum. Tadi pagi saya janjian dengan teman untuk sarapan di Pacific Place. Berhubung saya sendirian dan SCBD gampang banget dijangkau dengan bus patas jurusan Blok M, jadilah saya naik patas …