All posts tagged: motherhood

#ModyarHood: 4 Pelajaran Penting Dari Buku-Buku Parenting

Hahaha, first of all, saya mau memperkenalkan sebuah… apa ya, program kecil-kecilan bernama #ModyarHood dengan semangat ‘Walau kadang bikin mau modyar tapi tetap yahud’. Program ini sebetulnya ide awalnya dari Mbak Okke ‘Sepatumerah’ yang sekarang sudah bertransformasi menjadi Mamamolilo, hahaha. Jadi #ModyarHood ini akan menginisiasi sebuah topik setiap bulannya (rencananya) seputar motherhood yang kemudian akan dijadikan blogpost oleh kami berdua. Diharapkan para buibuk lainnya bisa ikutan menulis blogpost dengan topik tersebut. Tujuannya untuk menampilkan lebih banyak sudut pandang tentang motherhood itu sendiri sehingga kita bisa lebih arif dalam menyikapi perbedaan. HAZEK! Nah, topik perdana #ModyarHood ini adalah seputar buku parenting. Ide ini berasal dari saya, karena sudah lama saya pengen sharing buku-buku parenting apa saja yang sudah saya baca, namun ya ituuu belum sempat :p Alasan saya suka baca parenting: Secara umum bisa dipertanggung jawabkan, selama penerbitnya kredibel Kita tau konteks sebuah teori atau pemikiran dari latar belakang penulisnya, misalnya zen parenting akan merefer ke nilai-nilai spiritual Buddha, sementara western parenting cenderung menjunjung kebebasan, dst Saya memang suka baca aja… hahahaha Sejak hamil (2016) sampai …

Advertisements

Pintu-Pintu

“When one door closes, another opens.” – Alexander Graham Bell Sudah seminggan ini saya cukup sibuk dengan beberapa meeting, project, deadline, dan commission sampai-sampai nggak sempat menulis di blog, padahal ada beberapa hal yang sudah terpikirkan untuk di-post. Setiap kesempatan untuk menjadi produktif sungguh saya syukuri. Rasa syukur ini kemudian membawa saya untuk meluangkan sepotong pagi untuk menulis blog post singkat ini. Waktu resign dari kerjaan saya 1,5 tahun lalu, saya sempat berpikir bahwa menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan jika dilihat dari sisi karir dan sosial. Mungkin kalau dilihat dari sisi tersebut saja ada benarnya. Saya harus berhenti menjadi geologist dan membangun jaringan dalam lingkup profesi saya. Saya juga harus berhenti solo traveling dan menyimpan rapat-rapat dulu mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadi saya pikir waktu itu: ya harus ikhlas, namanya juga pengorbanan. I closed the door and I had to move on.