All posts tagged: WAHM

Being Jack of All Trades

Teman-teman tentu pernah dengar istilah ‘Jack of all trades, master of none’. Istilah ini ditujukan kepada orang yang punya macam-macam kebisaan tapi nggak satu pun dari kebisaan tersebut menjadi keahlian spesifik (mastery). Ibarat main cangkulan, kartunya Jack semua; nggak buruk tapi tetap kalah kalau dihadapkan dengan Queen, King, atau Ace. Saya sendiri adalah salah satu contoh jack of all trades. Sebetulnya saya banyak mengucapkan syukur Alhamdulillah untuk itu. Sejak SD saya hampir selalu jadi juara kelas, paling nggak ya 5 besar lah. Apakah karena saya jenius? Pastinya….. BUKAN. Saya dapat rangking karena kurikulum di Indonesia ini banyak banget mata pelajarannya, mulai dari Matematika sampai Bahasa Sunda sampai Tata Busana. Nah, terlahir sebagai jack of all trades (plus a multi tasker), saya bisa menghadapi banyaknya dan bervariasinya mata pelajaran. Disuruh ngafalin, oke. Disuruh hitung-hitungan, boleh juga (walaupun begitu SMA mulai musuhan sama matematika). Disuruh mengarang bebas, wuih, jago. Nah tapi coba kalau saya dikirim olimpiade sains? Bubar. Gugur sebelum berbunga. Beranjak dewasa, saya pun semakin menyadari hal ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sebetulnya bukan hanya potensi saja …

Advertisements

Apakah Menjadi Ibu di Rumah Artinya Mundur Dalam Aktualisasi Diri?

Hari Sabtu lalu saya ketemuan dengan rekan seperjuangan waktu kerja sebagai wellsite geologist dulu. Berhubung jumlah wellsite geologist perempuan nggak banyak, mau nggak mau kami jadi dekat satu sama lain (eh, saya sih berasa dekat banget ya, mudah-mudahan kalian merasakan hal yang sama HAHA *sedih dong kalau nggak diakui*). Sudah 4 tahun berlalu sejak terakhir saya naik rig dan kalau dingat-ingat jadi kangen, hehe. Mungkin nggak semua orang suka kerja di rig tapi saya termasuk yang bisa menikmati. Saya introvert, suka kerja di malam hari, dan saya punya hobi yang bisa dilakukan di rig kalau bosan: baca buku, menulis, dan gambar-gambar. Saya juga menikmati banget hidup minimalis, nggak usah repot dandan sebelum kerja, baju juga cukup 2 stel, kantor jaraknya cuma beberapa langkah dari kamar dengan stok kopi dan cemilan unlimited, plus makanan selalu tersedia 4x sehari. Gaji awet, cuti pun banyak, hehehe. Tentu yang diingat-ingat  di atas adalah yang indah-indahnya. Lain waktu lagi ya cerita soal tekanan dan resiko kerja yang super tinggi :p Ya namanya juga lagi kangen, pasti yang diinget yang indah-indahnya dong. *kasih mic buat …

Let Us Not Feel Guilty for Not Being Super Mom

Sudah empat bulan lebih seminggu saya menjalani peran baru saya sebagai ibu. Layaknya ibu-ibu kantoran, saya juga sudah kembali dari ‘cuti melahirkan’. Saya mulai menerima commission dan bersiap buka lapak Fat Bunny lagi. Saya juga mulai memikirkan mau diapakan ide-ide yang selama ini terlintas di kepala setelah lama ada di buku catatan. Intinya: saya merasa siap untuk menjadi Working At Home Mom (WAHM) alias ibu yang bekerja di rumah, seperti apa yang saya cita-citakan. So, how’s the road to be WAHM going? Sebetulnya, alhamdulillah, sejauh ini semua berjalan dengan baik. Antariksa mendapat konsumsi ASI eksklusif dan berat serta tinggi badannya baik sekali untuk bayi seusianya (9.7 kg / 67 cm). Saya sudah memangkas 15 dari 20 kilogram hasil kehamilan kemarin. Dengan adanya seorang Asisten Rumah Tangga (ART), rumah kami bersih, rapi, dan makanan rumahan selalu tersedia. Di awal bulan semua administrasi rumah tangga saya bereskan, dan di akhir bulan suami mendapat spreadsheet laporan keuangan yang akuntabel. Manajemen keuangan berjalan baik dan alhamdulillah selalu ada yang disisihkan untuk tabungan. Sedikit demi sedikit saya pun mulai bereksperimen soal manajemen waktu. Saya bisa bekerja di ruang …