Catatan Bacaan 2021: Mengkritisi Konten, Memahami Konteks

Setelah kemarin merangkum bacaan secara kuantitatif, kali ini saya mau cerita tentang beberapa buku yang berkesan dan pengalaman saya untuk belajar memahami konteks budaya. Tahun ini saya menulis Budaya Kita Adalah…‘ (Februari 2021) dan What Should Our Parenting Style Reflect?‘ (Agustus 2021) dan sebelum menulis tulisan ini, saya membaca keduanya kembali. Bukan karena ‘narsis’, tapi membaca tulisan lama adalah salah satu cara merunut pemikiran pada hari ini. Saat membacanya saya berpikir, “Oh, sebetulnya ini sesuatu yang sudah pernah saya tulis ya…”

Bukan kebetulan kalau saya menemukan Adam Grant menulis ini dua hari yang lalu. Memang menulis adalah “tool for crystallizing ideas,” dan sering kita perlu menulis tentang hal yang sama berulang-ulang kali dengan cara yang berbeda untuk benar-benar memahami gagasan tersebut.

Salah satu hal selalu memancing rasa ingin tahu saya adalah tentang ragam budaya dan perilaku masyarakat di belahan dunia yang berbeda. “Kenapa orang di daerah A berlaku X, dan kenapa orang di daerah B punya stereotype yang membuat kita punya ekspektasi melakukan Z?” Untuk teman-teman yang punya latar belakang social science apalagi mungkin ini hal yang biasa dibahas, namun bagi saya ini adalah subjek yang perlu ‘dipelajari’ dengan membaca buku. Tentu saja ini subjek yang terlalu luas (bahkan tak terbatas) dan dinamis, namun beberapa buku dan diskusi membantu saya untuk mendekatinya.

‘The Culture Map’ oleh Erin Meyer

22085568. sy475

Buku ini beserta apa yang saya pikirkan sudah saya tulis di post ini. Singkatnya, buku ini membahas tentang bagaimana latar belakang budaya seseorang akan mempengaruhinya di lingkungan kerja. Berhubung ini buku bisnis dan manajemen, tidak banyak aspek geografis atau antropologi yang dibahas. Namun demikian, cukup banyak fakta singkat yang coba menganalisis hubungan sebab akibat. Misalnya, orang Jepang memiliki budaya komunikasi yang kontekstual, banyak kode-kode dan mengharuskan kita ‘read between the lines’ karena situasi geografis yang membuat masyarakatnya lebih homogen dan menganut ‘groupism’. Sementara orang Amerika cenderung memiliki budaya komunikasi yang blak-blakan karena secara masyarakat ‘diverse’ dan datang dari latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, nggak bisa kode-kode. You’ve got to say what you mean.

Saya suka buku ini karena ditulis dengan tidak membosankan, praktis walaupun kurang mendalam, tapi sesuai dengan konteksnya: menjalin hubungan bisnis.

Buku-buku asal Korea Selatan: Mental health, kemiripan budaya dan isu patriarki

  • ‘Almond’ Sohn, Won-pyung – Fiksi
  • ‘Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?’ Sang-hyun, Kim – Non-Fiksi
  • ‘The Hen Who Dreamed She Could Fly’ Hwang, Sun-mi – Fiksi (fabel)
  • ‘Menyakitkan, tapi Tak Seburuk yang Kupikirkan’ You-Jeong, Lee – Non-fiksi
  • ‘Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah’ geulbaewoo – Non-fiksi
  • ‘My Brilliant Life’ Kim, Ae-ran – Fiksi

Ini adalah beberapa buku asal Korea Selatan yang saya baca tahun ini. Memang sejak pandemi, berdasarkan pengalaman saya ‘mengurus’ BBB, ada peningkatan trend minat terhadap buku-buku Korea Selatan. Saya percaya ini ada hubungannya dengan trend korean wave (hallyu) yang ‘mengguncang’ dunia. Namun untuk urusan buku, berdasarkan buku-buku yang saya baca tahun ini (dan yang beredar di pasaran), buku yang sangat populer adalah yang dekat dengan tema kesehatan mental yang tak lepas dari tekanan masyarakat.

Menurut saya pribadi, buku-buku asal Korea Selatan ini lebih ‘relatable’ dibanding buku-buku asal barat. Kenapa? Karena banyak sekali faktor tekanan keluarga serta ekspektasi sosial yang hadir dan terasa juga di Indonesia, misalnya tekanan untuk sukses secara akademik dan finansial, untuk menikah dan punya anak, bahkan kekhawatiran perempuan yang belum menikah untuk pergi ke obgyn sebagaimana disampaikan di buku ‘Menyakitkan, tapi Tak Seburuk yang Kupikirkan’. Selain itu, hampir di semua buku saya menemukan aspek keluarga dan hubungan dengan anak dan orang tua yang porsinya signifikan, bahkan menjadi pusat cerita. Hal ini cukup berbeda dengan buku-buku asal Amerika Serikat atau Eropa Barat dimana orang tua tidak terlalu besar andilnya dalam pengambilan keputusan hidup, setidaknya kebanyakan yang saya baca selama ini.

Hal ini sempat kami diskusikan bersama Karlina Octaviany alias @journalin, digital anthropologist. Menurut Alin, memang secara budaya kita bisa lebih ‘relate’ dengan Korea Selatan, termasuk soal isu patriarki yang masih sangat kental.

Oh iya, buku-buku asal Korea Selatan ini juga berdampak pribadi untuk saya yang selama ini tidak tertarik dengan buku bertema kesehatan mental atau tipe-tipe ‘hugging essays’. Ternyata ‘dipeluk’ buku-buku ini hangat dan menyenangkan juga :)

‘Achtung Baby’ oleh Sara Zaske

34930861

Sejak menjadi ibu, ‘parenting style’ adalah salah satu subjek yang saya gunakan untuk memahami budaya. Kenapa? Karena parenting style secara tidak langsung mencerminkan value, tatanan masyarakat dan sistem pendidikan. Sejak 2016 saya membaca beberapa buku tentang style parenting di beberapa negara seperti Perancis, Denmark, Amerika Serikat, dll (bisa dlihat di shelf ini). Buku ‘Achtung Baby’ ini adalah salah satu favorit saya karena cukup mendalam saat menggali aspek budaya kaitannya dengan sejarah dan politik, termasuk soal bagaimana Jerman sempat terbagi berdasarkan ideologi.

Bagi saya, buku ini bukan hanya tentang pola asuh tapi juga mendorong saya untuk memahami bagaimana gaya pola asuh dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lebih luas dan kompleks dari sekadar pilihan individu. Berikut ulasan saya tentang buku ini di Buibu Baca Buku Book Club:

‘Love, Money, and Parenting’ oleh Matthias Doepke & Fabrizio Zilibotti

53232213

Setelah membaca buku ‘Achtung Baby’ akhirnya saya membaca buku ini yang rasanya memberi gambaran tentang gambar besar dari puzzle yang sedang saya susun. Sebetulnya ini bukan buku parenting melainkan ‘social science’. Buku ini merupakan hasil studi tentang hubungan antara pola asuh (parenting style) orang tua dengan situasi ekonomi, terutama soal kesenjangan sosial.

Penulis mengikuti pembagian pola asuh menjadi 3 tipe; authoritarian, authoritative dan permissive. Lewat berbagai data dan statistik, buku ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua di suatu wilayah. Misalnya, soal kecenderungan orang tua yang lebih permisif di negara-negara Skandinavia dengan tingkat kesenjangan sosio-ekonomi yang rendah. Sementara itu, di negara-negara yang kesenjangan sosio-ekonominya besar dan pendidikan dianggap bisa menjadi kunci kesuksesan dalam konteks sosio-ekonomi seperti Amerika Serikat dan Cina, pola asuh akan lebih cenderung intens (authoritarian atau authoritative).

Namun, lebih dari itu, buku ini juga menjelaskan banyak hal soal hubungan antara pola asuh dengan kesetaraan gender, kebijakan publik, indeks korupsi, kemajuan teknologi baik di industri maupun ranah domestik, pembagian kelas sosial, sistem pendidikan serta ujian.

Buku ini menjadi banyak jawaban atas pertanyaan saya terkait pola asuh dan budaya. It’s way more complex than East vs West karena melibatkan banyak variabel sosio-ekonomi dan kebijakan publik, bukan faktor budaya semata. Namun penulis tetap setia pada gagasan utamanya: semua orang tua menyayangi anaknya dan ingin anaknya bisa survive menghadapi masa depannya.

Kalau membicarakan buku ini mungkin butuh satu blog post sendiri, but in short: buku ini adalah buku non-fiksi terbaik versi saya tahun ini :)

Buku-buku asal Jerman dan Seni Menerjemahkan

  • ‘Momo’ oleh Michael Ende
  • ‘Inkheart’ oleh Cornelia Funke
  • ‘An Inventory of Losses’ oleh Judith Schalansky

Tahun ini Buibu Baca Buku mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan Goethe Institut Bandung. Ini bukan hanya sebuah kehormatan tapi membuka wawasan dan mengubah pandangan saya tentang beberapa hal, salah satunya: berhenti meremehkan buku terjemahan. Okay, guilty as charged, sejak lancar membaca buku dalam Bahasa Inggris, saya punya kecenderungan untuk memilih buku Bahasa Inggris karena ‘suuzon’ duluan dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Kadang takut nggak enak terjemahannya atau malahan jadi ‘dangdut’ (not that ‘dangdut’ is bad, but it’s a bit too much for me). Hal ini mungkin relevan jika bukunya memang berasal dari Bahasa Inggris jadi lebih enak dibaca dalam bahasa aslinya, atau ketika penerjemahnya kurang piawai.

Saya berubah pikiran sejak kegiatan Leseclub pertama di bulan September 2021, kami membahas buku ‘Momo’ bersama Pak Hendarto Setiadi sebagai penerjemah. Buku ‘Momo’ sendiri adalah salah satu buku favorit saya sejak kecil dan termasuk buku yang saya ‘angkut’ dari rumah orang tua ke tempat tinggal saya sekarang. Ketika membicarakan buku ini dengan Pak Hendarto yang menerjemahkan ini langsung dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia, saya jadi lebih sadar dan mengerti bahwa sebetulnya setiap kali melakukan alih bahasa, ada berbagai konteks kelokalan yang disesuaikan dengan pembaca setempat. Ada nuance yang mungkin hilang ketika konteks kelokalannya tidak tersampaikan atau tidak mampu diterima pembaca. Di sini penerjemah berperan besar.

Kesadaran ini kemudian semakin ‘gong’ saat membahas buku ‘An Inventory of Losses’ oleh Judith Schalansky yang jadi buku fiksi favorit saya tahun 2021. Pak Hendarto bercerita soal pengalamannya menerjemahkan buku ini bersama penerjemah dari negara-negara lain. Salah satu hal yang menarik yang beliau sebut adalah ketika menerjemahkan ke bahasa lokal, beberapa penerjemah dari negara di Asia harus berpikir ulang tentang kata ganti orang pertama yang harus digunakan agar pas dengan nuance cerita. Misalnya di Indonesia, ada ‘Aku’, ‘Saya’, ‘Gue’, yang akan sangat mempengaruhi konteks cerita. Hal ini membutuhkan interpretasi tersendiri karena dalam bahasa Jerman, hanya ada satu ‘Ich’, tidak peduli si karakter datang dari kasta apapun.

‘Sengkarut’ oleh Natsume Souseki, Edogawa Ranpo, Kaji Motojiro, Ogawa Mimei

56317174. sx318

Kesadaran yang datang dari Leseclub dan obrolan dengan Pak Hendarto membuat saya lebih memperhatikan penerjemah sebagai co-author dari sebuah karya. Saya jadi memperhatikan buku-buku yang diterjemahkan langsung ke Bahasa Indonesia dari bahasa aslinya. Salah satu favorit saya adalah ‘Sengkarut’ terbitan Penerbit Mai yang mengangkat 6 tulisan dari 4 sastrawan klasik Jepang; diterjemahkan dengan indah :)

Salah satu poin yang menarik dari tema besar pengalaman membaca saya di 2021 soal memahami konteks adalah bagaimana tata bahasa mencerminkan budaya suatu bangsa. Pak Hendarto menjelaskan bahwa Bahasa Jerman memiliki tata bahasa yang mumpuni untuk membuat kalimat-kalimat panjang yang mengandung banyak gagasan. Hal ini rumit namun sebenarnya sistematis dan rasanya ‘Jerman banget’ yang dikenal strict dengan aturan. Sementara Bahasa Jepang, sering meninggalkan subjek dalam kalimat. Hal ini rasanya menggambarkan ‘groupism’ atau istilah “The nail that sticks out gets hammered down.” Selain itu, saya juga lebih paham kenapa di shoujo manga atau komik-komik cewek Jepang, sering ada kesalahpahaman saat mengungkapkan cinta, sampai-sampai ini jadi sebuah ‘classic cliche’ :p

Oke, sepertinya segitu dulu catatan saya untuk buku-buku yang berkesan dan pelajaran sepanjang tahun 2021 ini. Oh iya, sebetulnya ada satu lagi yang jadi favorit saya yaitu ‘The Fran Lebowitz Reader’ oleh Fran Lebowitz, tapi sepertinya saya nggak perlu membahasnya panjang lebar karena membaca komedi satir adalah sebenar-benarnya bentuk ujian dari pembelajaran untuk memahami konteks ;p

One response

  1. Aku cari hugging essay itu apa, tapi masih bingung. Ada yang bisa jelasin ngga?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: