What if being competitive is a disadvantage these days?

Setelah membaca beberapa buku dan ikut online coursenya Rory Sutherland, saya lebih ‘ngeh’ kalau berbagai perilaku manusia modern itu ada penjelasannya dari perspektif evolutionary biology. Evolutionary biology ini sendiri adalah subbidang biologi yang mempelajari proses evolusi termasuk seleksi alam yang menghasilkan keanekaragaman kehidupan di Bumi.

Misalnya perkara manusia yang suka craving manis-manis, mudah tertarik kepada hal-hal yang berbau pornografi, atau kenapa kita suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain dan mudah FOMO. Sebetulnya semua berhubungan dengan survival mechanism alias mekanisme bertahan hidup: mendapat energi, bereproduksi, dan diterima sebagai bagian dari kelompok. Leluhur kita yang punya perilaku seperti ini akan lebih besar kemungkinannya untuk bertahan hidup, bereproduksi dan mewariskan gennya dibandingkan mereka yang tidak.

Contoh mudahnya: Manusia zaman dulu yang memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup adalah mereka yang ada dalam kelompok dan ikutan lari kalau teman-teman sekelompoknya ramai-ramai lari begitu ada yang teriak “Awas, ada singa!” Terlepas dari apakah singanya betulan ada ataukah yang teriak ini cuma suuzon saja. Nah, leluhur yang anti-mainstream dan cek fakta dulu, “Wah, beneran nggak nih singa? Atau cuma hoax?” lebih kecil kemungkinannya untuk survive dan menurunkan ke-anti-mainstream-annya itu. Begitu kurang lebih.

*

Bergeser sejenak dari topik evolutionary biology, sebetulnya saya selalu penasaran kenapa ya kita sulit sekali untuk ‘mudita‘ alias ‘senang lihat orang lain senang’. ‘Mudita’ ini berasal dari bahasa sanskerta berarti kegembiraan atau kesenangan yang datang dari kesenangan dalam kesejahteraan orang lain. Kata ini sulit dicari padanan katanya baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Inggris, padahal lawan katanya pasti ada dalam tiap bahasa: iri, envy, bahkan ada ‘schadenfreude’ dalam bahasa Jerman yang spesifik berarti: senang melihat kemalangan orang lain.

Tidak adanya istilah yang spesifik ini bisa jadi indikasi bahwa ‘senang melihat orang lain senang’ sebenarnya bukan konsep yang umum tertanam di pikiran manusia.

Kalau kita kembali menyoal evolutionary biology, saya jadi menduga-duga, apakah mungkin di masa lalu ketika sumber daya dan kesempatan sangat terbatas, orang-orang yang berperilaku lebih kompetitif akan lebih besar chancenya untuk survive beranak pinak dibandingkan orang-orang yang sifatnya ‘mudita’? Dengan sedikit cocoklogi, saya jadi teringat ibu saya yang suka memberi nasihat ‘ngaco‘, “Jadi orang jangan terlalu baik, nanti cepat meninggal.” :’)))

*

Kalau dugaan tadi masuk akal, saya punya dugaan berikutnya: kalau memang dulu menjadi kompetitif dan serakah memperbesar chance kita untuk survive, apakah hal ini masih relevan dengan situasi sekarang, terutama bagi kita yang hidup di kota besar dengan ‘resource’ yang lebih dari cukup? Apalagi dengan situasi hyperconnected dimana kita selalu bisa melihat pencapaian orang lain tanpa batas, menjadi kompetitif rasanya melelahkan.

Sebaliknya, mungkin di zaman sekarang, menganut konsep ‘mudita’ atau senang melihat orang lain senang tanpa merasa kurang jadi lebih menguntungkan bagi kesehatan mental dan juga fisik. Bulan lalu saya membaca 2 buku tentang kesehatan mental yang ditulis berdasarkan wawancara dengan orang-orang Singapura, ‘Stories We Don’t Tell’ dan ‘Growing Pains’ karya Hun Ming Kwang. Hampir semuanya menyebut bahwa kultur di Singapura yang amat kompetitif berdampak kepada kesehatan mental, bukan hanya pada individu tertentu tapi juga secara kolektif dan ini akan diturunkan ke generasi berikutnya.

Satu hal lagi tentang ‘mudita’, saya pikir ini juga sehat untuk relasi kita dengan orang lain serta bisa membuat kita lebih approachable untuk diajak kolaborasi. Some of you might have been fed up with ‘collaboration’ word and thought that it is overused, but I can see why and how, being a person who can collaborate will give you a better chance to survive. Even Forbes mentioned it.

Tentu ini bukannya anjuran untuk berhenti punya mindset bertumbuh agar bisa ‘naik kelas’ yang pastinya bagian dari ‘kompetisi’ juga. I just think that maybe we should find the balance and try not to make everything a competition because it might be a disadvantage these days. “Wah, si X bisnisnya dia maju, aku juga nggak boleh kalah. Nah, si Y ini keren banget, jadi pembicara di mana-mana, aku juga nggak boleh kalah. Walah ini si Z kalau bikin bekal anak cantik banget kaya di manga-manga, besok aku juga deh. Ealah, ini si WWGMBL, olahraganya lari marathon 42 km, aku juga pasti bisa nih.” Niscaya malah capek, cepat burn out dan nggak sustain untuk bertumbuh dalam jangka panjang :)

***

Buku-buku yang menginspirasi tulisan ini:

4 responses

  1. Em ini bertahun2 aku sll kompetitip dlm berbagai hal kepada setiap org. Baru stlh aku dua tahun ini ke psikiater, aku bs mudita. Jd stlh aku mengobati luka batinku dl aku br bs nerapin itu

  2. Beberapa hari yg lalu aku juga kepikiran soal ‘mudita’ ini, tapi dalam konteks opportunity untuk belajar. Gak perlu FOMO kalo ada orang yg lebih duluan achieve sesuatu, karena justru kita jadi punya sumber ilmu yg valid, jadi bisa belajar dari pengalaman dia. Ini gatau sih konsepnya jadi mudita apa oportunis aja ya ?

  3. Ini jadi ngebuat aku merenung, bahwa ada orang di sekitarku yang sedang menjalani hidupnya secara mudita—tapi di satu sisi, dia bisa jadi apatis dan oportunis: dalam menjalankan perusahaan bersikap oportunis, perihal keluarga bersikap mudita, dan perihal politik bersikap apatis. But they enjoy their life, lesser overthinking, and I think it’s good for them. And yeah, maybe it’s all about the balance. Kak Puty, thank you for sharing this thought! (+ the book recommendations of course)

  4. Ih aku mudita banget alias namanya aja Dita, hihihi… Tapi emang ga gampang sih punya mindset ‘cukup’ dan butuh waktu lama sekali untuk paham kata-kata dosen etike Buddha dulu “Joy in the joy of others.” Dan ga hanya wah selamat yaaa, tapi beneran ga julid dalam hati maupun di belakang, hehe. Harus sering ngingetin diri sendiri, kompetisi itu sebaikanya sama diri sendiri, jangan sama orang lain :)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: